• Pilar-Pilar Masjid Ahmad Bin Thulun Kairo Lama

    Masjid Ibnu Tulun adalah masjid yang berada di kota Kairo Mesir. Masjid Ibnu Tulun dibangun pada tahun 876-879 dimasa pemerintahan Ahmad Ibn Tulun, penguasa Mesir pertama dari dinasti Ibnu Tulun yang berkuasa di Mesir selama 135 tahun. Masjid yang sudah berumur ratusan tahun namun cukup terawat baik ini menjadi salah satu peninggalan masa kejayaah Islam di Mesir. Masjid ini juga menjadi masjid tertua kedua di Mesir setelah Masjid Amr Bin Ash. [...]

  • View Masjid Sultan Hasan Dari Benteng

    A Blogger Template by NewBloggerThemes.com. Ut sit amet odio erat, ut rhoncus libero. Maecenas vestibulum dui et urna fringilla pulvinar at ornare nibh. Nam et scelerisque lorem. Class aptent taciti sociosqu ad litora torquent per conubia nostra, per inceptos himenaeos. Nam quis neque et elit congue luctus. Sed ultrices tellus at dui pellentesque vulputate? Phasellus molestie tincidunt convallis. Nullam turpis [...]

  • Pertunjukan Tari Sufi

    Gerakan tubuh yang memutar berlawanan dengan arah jarum jam mengikuti alunan musik, dimana semakin lama, putaran itu semakin cepat. kostum tari dengan rok lebar yang mereka kenakan berkibar indah. Umumnya tarian sufi dilakukan pria secara kelompok, sebagai ekspresi seorang pencari Tuhan saat bertemu dengan sang kekasih, perasaan yang meletup-letup adalah wujud gerak dalam bentuk tari. [...]

  • Pyramid Gyza

    Di Mesir umumnya piramida digunakan sebagai makam raja-raja Mesir Kuno yang dikenal dengan nama firaun. Namun demikian, berabad abad lalu piramida sering digunakan sebagai sasaran penjarahan dan perampok makam karena para raja-raja membawa harta kekayaannya dan segala macam artefak guna di alam baka, meskipun begitu piramida tetap menjadi tempat paling favorit di Mesir. [...]

  • Pasar Souvenir Khan Khalili

    A Blogger Template by NewBloggerThemes.com. Ut sit amet odio erat, ut rhoncus libero. Maecenas vestibulum dui et urna fringilla pulvinar at ornare nibh. Nam et scelerisque lorem. Class aptent taciti sociosqu ad litora torquent per conubia nostra, per inceptos himenaeos. Nam quis neque et elit congue luctus. Sed ultrices tellus at dui pellentesque vulputate? Phasellus molestie tincidunt convallis. Nullam turpis [...]

  • View Masjid Al-Azhar Dari Dalam

    Masjid Al-Azhar adalah sebuah masjid yang dibangun oleh Panglima Jauhar Assiqilli di Kairo antara tahun 970-972 Masehi atas perintah khalifah Muiz Lidinillah, dari Daulat Fatimiah. Masjid ini adalah masjid Islam yang paling terkenal sekaligus masjid kampus terbesar, Pada masa Daulat Mamalik, untuk pertama kali masjid ini berfungsi sebagai universitas dan pada tahun 1961 berubah menjadi universitas modern yang memiliki beberapa fakultas. Al-Azhar dianggap sebagai poros pemikiran Islam, politik dan ilmu-ilmu agama di Mesir dan dunia Islam [...]

Kejar, Dapatkan Dan Kemudian Bagilah

Kamis, 06 Juni 2013

Masjid Sultan Inal


Komplek sultan Inal merupakan salah satu peninggalan bersejarah di mesir yang masih tampak  kokoh nan indah hingga saat ini.  Terletak di jalan sultan ahmad beberapa meter dari jalan Al-azhar.



Komplek yang dibangun pada tahun 1451-1456 ini Mulanya  hanyalah pemakaman indah yang dibangun oleh sultan inal saat masih menjabat sebagai amir, kemudian setelah menjadi sultan, dibangun sebuah khanqah,  madrasah, masjid, sabil kutab dan juga zawiya disekeliling makam.



Bangunan ini dipenuhi ukiran-ukiran menarik dari marmer, akan tetapi hanya tersisa sedikit pada saat ini, adanya menara dan kubah semakin mempercantik komplek ini dan kubahnya terbuat dari batu yang di hiasi dengan ukiran berpola zigzag.

Disudut komplek ini terdapat makam sultan inal beserta istri dan dua anaknya ahmad dan Muhammad.



saifuddin abu nasor inal bin Abdullah al’alai adhohiri annasiri awalnya adalah budak yang dibeli oleh seorang pedagang yang bernama Ala’addin, kemudian ia di jual kepada sultan Ad-dhahir Barquq, pendiri dinasti mamluk Burji pada tahun 1397. inal menjadi prajurit selama menjadi pelayan sultan barquq.



Setelah kematian sultan barquq, naiklah anaknya sultan an-nasr farag yang menggantiknya, dan ketika itu sultan inal dibebaskan dan derajatnya disamakan dengan keturunan sirkasia yang lainya.



Karir sultan inal terus melejit melalui jajaran militer hingga pada tahun 1428 ia di angkat menjadi gubernur di daerah gaza pada masa sultan al-asraf barsbay, sultan inalpun dipuji-puji karena menjadi gubernur yang adil saat berkuasa.



Pada tahun 1445 dibawah sultan addhohir jaqmaq, inal diangkat menjadi komandan militer.



inal menjadi sultan menggantikan sultan Mansur usman anak dari sultan addhohir jaqmaq yang tidak diakui oleh rakyat sebagai sultan pada tahun 1453.

 selama pemerintahannya, sultan inal banyak membeli budak untuk dijadikan prajurit, dan membangun dan memperbaiki prasarana umum seperti perluasan jalan.



Sultan inal wafat disebabkan wabah penyakit yang menyerang mesir  pada tahun 1461 dan ia berkuasa selama 7 tahun 11 bulan.

Komplek Sultan Faraj bin Barquq

Masjid ini awalnya adalah khanqah, semacam pondok untuk para sufi. Mulai dibangun pertama kali pada 1400 M oleh Sultan Faraj Ibn Barquq (1382-1399 AD) untuk memenuhi permintaan ayahnya yang ingin dimakamkan di dekat makam para sufi di kompleks pemakaman bagian utara (the city of dead). Pembangunannya baru selesai 11 tahun kemudian, tapi setahun sebelumnya sudah ada peresmian yang menghadirkan 40 orang. Masjid ini terkenal sebagai masjid terbesar di kawasan itu, hingga sekarang. Sultan Barquq akhirnya dimakamkan di kompleks ini, di dekat makam ayahnya, Anas (1382). Sultan Barquq tercatat sebagai raja Mamluk Burgi pertama yang dikubur di kawasan ini.
Khanqah dibangun dengan tujuan urbanisasi situs. Sayangnya sebelum rencana ini terealisasi, Sultan Faraj sudah meninggal dunia terlebih dahulu. Oleh sejarawan abad kelima belas, al-Maqrizi, dia digambarkan sebagai "raja yang paling tragis di Mesir". Sultan Faraj naik takhta pada usia sepuluh tahun, dan di usianya yang ke-23 ia digulingkan dan dibunuh di Damaskus. Di sela-sela pembangunan ini, sang sultan terpaksa harus dicopot jabatannya sebanyak 2 kali. Ia juga harus bolak-balik Mesir-Syiria untuk meredam pemberontakan. Tapi perjuangannya itu tak sia-sia. Khanqah akhirnya bisa berdiri megah.
Awalnya kompleks direncanakan sebagai pusat perumahan daerah. Pemakaman Muslim abad pertengahan bukan semata-mata makam orang mati tapi juga sebagai istana dan hunian. Selain itu juga ada ruangan untuk para sufi dan pelajar. Bangunan ini dileangkapi dengan dua menara kembar, dua kubah kembar dan dua sabil kuttab (tempat singgah), masing-masing di sebelah kanan dan kiri. Di bawah kedua kubah itu terdapat makam sultan Barquq dan ayahnya.
Menariknya, bangunan ini memiliki banyak ruang tapi tanpa pembatas yang jelas. Sang arsitek mampu membuat ruangan besar yang simetris. Ini bukan bentuk yang lazim pada masa itu. Di sudut barat daya ada portal trilobed di sebelah kiri sabil kuttab. Ada portal lain di utara. Di sudut barat juga ada sabil kuttab lagi. Portal-portal ini tidak identik, keduanya memiliki keong pada stalaktit dan blazonnya. Di sisi utara ada lorong yang dimulai di sisi kiri bangunan dan mengarah hampir ke makam ayah Barquq. Diperkirakan lorong ini digunakan sebagai tempat berdoa untuk orang yang mati.
Di atas makam Barquq dan ayhanya ada Kubah luar yang terbuat dari batu terbesar pertama di era Mamluk. Diameternya lebih dari empat belas meter. Sebenarnya kubah Imam Syafi'i masih lebih besar dari kubah ini, hanya saja kubah itu terbuat dari kayu. Sebuah pola zigzag (chevron) menghiasi eksteriornya.  zona transisinya tidak biasa. kubah ini diukir dengan model satu cekung dan satu cembung sehingga menciptakan pola bergelombang. Sebenarnya di bawah kubah itu ada kubah lebih kecil yang terbuat dari batu bata. Namun sayangnya tak bisa terlihat dari luar.
Di sisi barat laut terdapat dua menara yang menjulang ke angkasa. Menara itu terdiri dari tiga struktur. Bagian bawah menara itu berbentuk kotak. Tingkat kedua membentuk silinder. Tingkat ketiga berbentuk tiang-tiang segi delapan dan puncaknya bulat seperti telur diakhiri dengan struktur tiang melancip.
Dalam bangunan ada sebuah halaman, ruang terbuka tanpa atap. Di tengah-tengahnya terdapat tempat wudhu yang kini tidak berfungsi lagi. Di sisi kanan-kiri halaman itu, ada ruwaq-ruwaq yang digunakan sebagai madrasah dengan pintu-pintu melengkung yang khas. 
Di sudut barat lau sebenarnya ada tangga untuk menuju lantai dua. Di lantai dua terdapat lorong-lorong dan bilik-bilik kamar. Namun tampaknya ruangan ini sudah tak difungsikan lagi.
Dinding-dinding bangunan ini tidak dicat juga tidak dimarmer atau dikeramik, hanya coklat polos. Di samping mihrab ada dikka, tempat al-Qur’an dilantunkan. Ia diapitr oleh dua buah relung yang lebih kecil. Di situ ada sebuah ukiran menarik berpola geometris dan bunga yang ditambahkan oleh Sultan Qaitbay tahun 1483. Di background mimbar bisa ditemukan tempat lampu minyak yang diapit sepasang lilin yang diukir.
Makam sebelah utara adalah makam Barquq dan Faraj bersama anak yang terakhir, sedangkan makam selatan adalah makam Shiriz dan Shakra. Kedua makam itu memiliki pintu masuk yang tertutup oleh kisi kayu dengan ukiran pola geometris. Interior kubahnya sangat menakjubkan. Hiasan geometri yang dilukis di bawah kubah itu berwarna merah kecoklatan, sangat indah. Di tepi hiasan ada jendela yang tertutup kaca warna-warni, sehingga sinar matahari yang masuk tampak memperindah ukiran di dalamnya.

Masjid Sultan Qaytbay

Qaytbay adalah salah satu sultan Barsbay dinasti Mamluk. Pada awalnya, Mamluk adalah sebutan untuk seorang budak. Qaytbay sendiri awalnya dibeli seharga lima puluh dinar. Setelah ditebus, Qaytbay kemudian meniti karir hingga menjadi komandan tentara sampai akhirnya menjadi sultan. Dia memerintah cukup lama, dari tahun 1.468 sampai 1.496 M. Rekornya hanya bisa dipecahkan oleh Nasir Muhammad. Dia terkenal karena kekuatan staminanya dan kehebatan bela dirinya. Prioritas utama pemerintahannya adalah mengembangkan hubungan diplomatik dengan Turki Utsmani dan promosi perdagangan, terutama dengan Italia. 
Sultan Qaytbay adalah bapak pembangunan Mesir yang sangat produktif sebagaimana Nasir Muhammad pada abad keempat belas. Selama masa pemerintahannya yang cukup lama, ia membangun 85 struktur bangunan di Suriah, Palestina, Mekkah, Alexandria dan Kairo . Arsitektur dalam negeri lebih mencolok daripada arsitektur asing. Pada masa ini, ukiran batu memasuki zaman keemasannya. Artistik batu cenderung menuju ke arah perbaikan. Kerajinan marmer memainkan peran penting dalam dekorasi eksterior bangunan. 
Salah satu monumen utama yang bisa dijadikan tolok ukur masa ini adalah kompleks masjid Qaytbay yang dibangun antara tahun 1472 sampai 1474 M. Sebenarnya kompleks ini terdiri dari masjid, madrasah dan makam pendirinya. Tapi sayangnya, kini tinggal tersisa bangunan masjidnya yang berkubah dan bermenara tunggal. 
Di sebelah kiri bangunan ada sabil - kuttab (tempat persinggahan para penuntut ilmu). Sementara sebelah kanan ada menara. Di sisi tenggara ada kubah kecil tapi megah. Di bawah kubah itu terdapat makam pendiri masjid. Ukiran pada kubah tersebut berpola lurus berlapis bintang berukir yang ditumpangkan pada ukiran arabesque bergelombang.
Menara batu itu berukiran bintang, ramping dan elegan. Pada permukaannya terdapat dua desain yang rumit, kompleks, tetapi masih jelas. Salah satunya polos, lurus berlapis pola bintang. Yang lainnya bergelombang arabesque bermotif bunga yang berlekuk-lekuk dan tersembunyi. 
Puncak menara berbentuk lonjong telur. Sebuah ukiran memutar di lehernya. Ini adalah salah satu menara yang paling indah di Kairo. Sabil kuttab memiliki langit-langit kayu berlapis emas. Di ruang depan ada bangku batu dan lemari dengan pintu berhias kayu dan gading.
Gaya kubah payung di atas lorong yang mengarah ke bagian dalam masjid sangat cantik. Di sini, kita juga bisa menemukan pintu kisi kayu, di situ ada kendi yang menjaga air tetap dingin. Lantainya marmer dan jendelanya berupa kaca berwarna-warni. Langit-langit masjid ini adalah contoh indah dari dekorasi komposit yang menggunakan tiga bentuk hiasan utama yang meliputi desain kaligrafi, geometris dan arabesque. Ornamen bintang menjadi bagian paling mencolok di sini. Meski dekorasinya menakjubkan, namun tetap tidak mengesampingkan efeknya yang kalem dan tenang.
Mihrabnya berdinding batu dengan pola hias yang dikenal dengan pola albaq. Di atap masjid itu terdapat sebuah prasasti. Makamnya bisa diakses dari ruang tengah. Makam ini merupakan salah satu makam yang paling mengesankan di Kairo. Di dalamnya ada sebuah mihrab berdinding kayu yang dihiasi batu pendentives yang telah diukir dan dicat.  Beberapa meter di atasnya menjulang kubah besar yang menjadi ikon masjid ini.
Di samping itu, ada lagi sebuah makam kecil berukiran arabesque. Makam ini terletak di sisi barat masjid, dibangun oleh Qaytbay sebelum ia menjadi seorang sultan. Ada yang mengatakan bahwa makam itu dibangun untuk anaknya. Kubah makam ini berukuran lebih kecil. Di sini juga ada ruang tunggu yang dibangun di atas gudang. Ruang ini dihiasi dengan deretan jendela yang melengkung hingga luar ruangan. Zaman dulu, di sisi utara masjid juga terdapat ruang khusus yang dilengkapi dengan roda pemasok air untuk hewan ternak.

Kompleks Pemakaman Amir Qurqumas

Kompleks pemakaman Amir Qurqumas ini berdampingan dengan makam Sultan Inal. Pada awalnya, Qurqumas adalah budak Sultan Qaytbay yang kemudian menjadi amir agung di bawah kepemimpinan Sultan al-Ghuri. Dia adalah komandan perang. Di hari kematinnya ia masih menjabat sebagai amir agung yang anti Ottoman.

Ibnu Iyas 'memberikan kita dengan obituari dan laporan pada pemakamannya, yang secara historis account menarik dari upacara ini selama periode mumluk:

Menurut Ibnu Ilyas, kematian Qurqumas terjadi pada hari Selasa tanggal 23 (Ramadhan). Saat itu Kairo berkabung. Prosesi pemakamannya diikuti oleh banyak orang, mulai dari pejabat hingga masyarakat awam.

Qurqumas adalah seorang perwira yang disegani. Ia memulai karirnya sebagai pelayan kedua kerajaan. Kemudian menjadi Komandan yang membawahi 1.000 tentara, Komandan Pengawal, dan akhirnya diangkat menjadi gubernur provinsi Aleppo pada masa pemerintahan Ashraf Janbalat, meskipun ia tidak pernah mencicipi jabatan itu. Ia dipenjarakan bersama sejumlah perwira yang lain di benteng Damaskus karena kecenderungannya kepada Tumanbay Amir Dawadar yang diangkat sebagai Sultan di Syiria.

Namun, setelah al-Ghuri berkuasa, ia dibebaskan dan dipanggil ke Kairo dan dilantik sebagai Menteri Perang. Tugasnya kemudian digantikan oleh Marsekal Qayt Rajabi ia dijebloskan ke penjara untuk kedua kalinya, tepatnya di Alexandria pada tahun 1505. Total, ia menjabat sebagai Marsekal selama enam tahun lebih 23 hari. Di usianya ke-60 dia jatuh sakit. Dia akhirnya berpulang ke haribaan ilahi dengan meninggalkan empat anak-anak dan kekayaan senilai sekitar 70.000 dinar (di luar asset bergerak nya). Dia meninggal sebelum Ottoman menggulingkan rezim Mamluk Mesir antara tahun 1.516 dan 1517.

Kompleks ini sempat dialih fungsikan untuk tujuan militer (sebagai gudang penyimpanan mesiu). Di depannya juga dibangun pabrik batu bata yang sangat sederhana. 

Masjid ini hanyalah salah satu dari sejumlah bangunan yang dibangun di kompleks Ququmas. Sebenarnya masih ada bangunan lain termasuk dapur, gudang, penginapan, sumur, kandang ternak dan tempat wudhu.

Kompleks pemakaman ini memiliki tata letak yang hampir mirip dengan Masjid Sultan Qaytbay. Sistem pengajaran di kompleks ini tampaknya tidak memiliki ritual-ritual khusus.

Menara masjid berada di sisi kanan, sementara sabil kuttabnya di sisi kiri. Kubahnya sendiri terletak di sudut tenggara bangunan berdampingan dengan ruang salat. Kubah ini memiliki proporsi dan skala yang sama dengan kubah Qaytbay meski ukiran geometrisnya tak serumit Qaytbay. Ukiran kubah ini berpola belah ketupat di bagian bawah dan pola zigzag di bagian atas.

Sedangkan menaranya bermotif belah ketupat di bagian tengah. Bagian atas terdiri dari susunan tiang-tiang yang menyangga puncaknya. Bentuknya hampir mirip menara Masjid Sultan Inal dan Qaytbay. Di sana juga ada tiga pilar pendukung yang digunakan untuk menggantung lampu masjid.

Di kompleks ini terdapat sebuah istana yang telah direservasi. Istana ini berupa sebuah lorong di sisi selatan makam. Hunian ini memiliki besi-besi besar beratapkan bukaan melengkung yang melingkupi sudut-sudut makam. Bangunan ini dapat dicapai dari pintu utama di halaman atau dari tangga internal di sisi lain dari makam. Di lantai dasar disediakan gudang dan kandang ternak. Sementara di lantai atas terdapat halaman terbuka, aula, kamar tidur, dan toilet. Desain interior seperti ini sering digunakan oleh yayasan-yayasan keagamaan saat itu.

Dengan demikian, kompleks Barsbay memiliki apartemen yang berdampingan dengan bangunan utama. Apartemen dua lantai ini berdiri di kedua sisi jalan menuju pemakaman. Salah satu sisinya masih bertahan hingga sekarang. Sedangkan sisi yang lain hamper runtuh. Ruangan-ruangannya diatur secara simetris di sepanjang koridor, setiap unitnya dilengkapi dengan tangga spiral sendiri. Masing-masing tangga memutar searah jarum jam. Ternyata ada filosofi tersendiri di sini. Untuk meniti tangga ini, Seseorang harus melangkah pertama kali dengan kaki kanannya. Apartemen ini bisa dihuni oleh delapan anggota yayasan, beserta keluarganya masing-masing. Selain difungsikan sebagai masjid, bangunan ini juga difungsikan sebagai Khanqah (kediaman para sufi).

Pada tahun 1983-1988, kompleks ini telah diperbaiki oleh Tim Restorasi Monumen Islam atas kerja sama Mesir dan Polandia. Saat ini, restorasi kompleks ini berada di bawah pengawasan Departemen Kebudayaan. Selama proses restorasi ini, kediaman sang pendiri sempat rusak parah akibat gempa bumi pada tahun 1992. Proyek ini mengambil pendekatan yang menarik. Mereka tidak memindah puing-puing sisa reruntuhan bangunan dan membiarkannya dalam keadaaan terbuka untuk menunjukkan sisi fungsional bangunan yang sebenarnya.

Masjid Sultan Asyraf Barsbay

 
Pada mulanya, Al-Asyraf Abu Nasr Barsbay adalah budak Sirkasia yang dibeli oleh pedagang Yahudi dan dibawa ke Aleppo Syiria. Ia kemudian dibeli oleh Barquq dan dibawa ke Kairo. Ia diberi mandat sebagai pengawal internal di dalam benteng kerajaan. Di masa pemerintahan Sultan Mu’ayyad Shah, ia diangkat sebagai pangeran dan dipercaya sebagai wakil sultan di Tripoli pada tahun 1418. Berkat jasa Sultan Shalih Muhammad bin Tatr, ia diangkat sebagai wakil sultan di Mesir. Akhirnya, pada tahun 1422 ia menyandang gelar sultan yang memegang tampuk kekuasaan selama 16 tahun.
Di masanya, ia berhasil melumpuhkan perompak Eropa di sekitar Ciprus yang selalu mengganggu pelaut muslim di Mediterania Timur. Ia juga membangun jalur perdagangan dengan Persia (Iran) dan India. Pada masa ini mulai dikenal mata uang al-Ashrafiyyah yang digunakan di wilayah Mesir dan sekitarnya.
Kejayaan Barsbay berakhir pada tahun 1438. Tapi kompleks pemakamannya sudah mulai dibangun pada 1432. Awalnya kompleks ini dimanfaatkan oleh 17 orang Sufi sebagai madrasah yang menyebarkan mazhab Imam Hanafi.
Seperti masjid Barquq, kompleks pemakaman ini terdiri dari makam, madrasah dan 2 sabil kuttab. Bangunan utamanya terlihat elegan. Memiliki 2 ruangan berkubah yang dihubungkan dengan sepasang lorong. Bangunan madrasah memiliki ruangan untuk sultan dan seorang sufi yang menjadi gurunya serta berdampingan dengan kamar para muridnya.
Arsitektur interiornya sangat impresif. Kompleks ini terkenal dengan mozaik lantai marmer yang indah. Keindahannya selaras dengan ketinggian kubah dan ornament-ornamen yang menghiasi interiornya.
Pola ukiran yang menghiasi sisi luar kubah bermotif jalinan bintang. Motif ini terlihat unik dengan bentuknya yang memanjang. Kubah ini diukir dengan sangat teliti. Pola geometri yang sambung menyambung membuat motif bintang menjadi berombak-ombak. Desain ini merupakan pergeseran dari ukiran berpola zigzag yang memang dominant pada masa itu.
Perhatikan sisi ukiran paling bawah dari kubah itu. Ukiran itu seperti motif mawar yang tak sempurna. Menurut para ahli, motif mawar yang tak sempurna itu menunjukkan bahwa pembuatan ukiran itu baru dimulai setelah kubah selesai dibangun, tidak bersamaan dengan pembangunan kubah.
Menara masjid dibangun terakhir setelah bangunan utama selesai. Bentuknya mengikuti gaya Turki utsmani, dengan puncak mengerucut. 
Dari jalan utama, kita disambut oleh pagar besi yang mengelilingi kompleks. Begitu masuk masjid, kita langsung disuguhi pemandangan yang sangat kontras dengan bangunan-bangunan era Mamluk pada umumnya. Tidak seperti kompleks sultan Inal, Qurqumas dan Barquq yang memiliki halaman tak beratap di dalam masjid, masjid ini cenderung memanjang dan sempit. Ada dua ruang utama dalam masjid itu. Keduanya dipisahkan oleh sebuah lorong dengan lantai sedikit lebih rendah. Ruang ini bergaya Yunani-Romawi klasik.
Mihrab masjid ternyata baru ditambahkan pada tahun 1953. Mihrab ini dianggap sebagai salah satu mihrab terbaik di Kairo. Ukiran berpola bintang dipahat di atas gading. Lantainya yang mewah tersusun atas marmer hitam putih, batu kapur merah oranye dan kerang mutiara. Jendelanya berukir semen dengan kaca temaram. Atap yang berwarna-warni menunjukkan bahwa masjid ini telah tersentuh perbaikan di era Turki Utsmani. Kamarnya berdinding jendela dua susun. Yang atas telah direstorasi dengan kaca berwarna bergaya modern.
Di ujung lorong ada sebuah makam. Monumen Barsbay yang terbuat dari marmer ungu dipasang di ruangan melingkar ini. Dekorasi mihrab dibuat lebih menonjol daripada bagian-bagian lain dengan kombinasi marmer dan kerang mutiara. Kubah tampak menjulang ke angkasa. Pencahayaan ruangan mengandalkan sinar matahari yang menembus jendela-jendela tradisional yang tertutup kaca warna-warni.
Di sebelah selatan masjid terdapat kompleks penginapan. Penginapan ini sama dengan penginapan-penginapan yang ada di kompleks Inal, Qurqumas dan Barquq.